Kembali ke WhatsApp

Saya tidak akan menuliskan di sini alasan saya tidak menggunakan WhatsApp dalam waktu satu bulan lebih. Tulisan ini saya buat hanya untuk meluapkan isi pikiran termasuk apa yang saya rasakan saat tidak menggunakan WhatsApp.

Ada kebahagiaan dan ketidakenakan saat saya off dari WhatsApp. Kebaagiannya adalah saya menjadi lebih lega, saya menjalani hari dengan lebih ringan, bahkan ketika tidak bertemu dengan teman selama satu minggu.

Entah, saya bernar-benar bahagia menjalani rutinitas.

Sementara, kekurangannya adalah ketinggalan informasi, terutama yang ada berasal dari grup kuliah dan keluarga.

Tapi kalau ditimbang-timbang, buat saya pribadi lebih banyak kebahagiaanya. Lagipula saat saya tidak menggunakan WhatsApp juga tidak ada orang dirugikan.

Hanya saja, beberapa teman (tidak sampai sepuluh) hingga orang tua awalnya mengaku kesulitan ketika ingin menghubungi saya, terutama ketika teman saya ingin bermain ke tempat saya maupun bertemu.

Saat bertemu teman, saya selalu menceritakan sekaligus memberi tahu kalau saya off dari WhatsApp entah sampai kapan.

Sebagian besar dari mereka pasti akan mengeluarkan kalimat “oalah, pantas tak hubungin kok tidak dibalas, malah centang satu”, “saya kira saya diblokir”, dsb.

Ya ampun, maafkan saya teman-teman. Haha.

Tetapi setelah saya memberi tahu, mereka juga sudah mengerti dan akhirnya menghubungi saya melalui media sosial lain, karena saya memang hanya tidak menggunakan WhatsApp, tetapi masih sering membuka media sosial lain (terutama Facebook).

Sudah begitu saja, tulisan ini memang saya buat rancu dan tidak jelas.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.