Ikan Kecil di Sekeliling Ikan Besar

Saya melihat satu hal yang serupa dalam semua persaingan di berbagai bidang. Mulai dari bidang desain, esport, blogger, dan trader ada satu hal yang semakin lama membuat mereka yang memulai dari nol semakin sulit untuk naik kelas.

Ketimpangan ini bersumber dari modal (kapital, koneksi, keilmuan). Algoritma dan cara dunia bekerja semakin menuntut seseorang memiliki pace (dalam keterampilan) yang hingga hampir tak masuk akal.

Jika dulu kita hanya membandingkan kuantitas dan kualitas, kini menjadi kuantitas kuantitas dan sedikit kualitas melawan kualitas.

Ada beberapa buku bacaan yang membantu saya connecting the dots yaitu Deep Work karya Cal Newport dan David & Goliath karya Malcolm Gladwell.

Tentu saja dua buku tersebut tidak cukup, ada beberapa wawasan dan pengalaman yang saya dapat juga saat menjalani berbagai rintangan. Di dunia trader sendiri saya menemukan konsep small fish Vs big fish.

Dalam dunia saham dan kripto mereka yang menjadi big fish adalah mereka yang punya modal besar. Sebagian menyamarkannya dengan nama “smart money”, sebagian menyebutnya dengan kata “bandar”.

Dalam dunia blogger algoritma mesin pencari seolah mengasingkan blog pribadi. Website berita yang seharusnya membahas berita kini membidik kata kunci yang sewajarnya ditulis oleh para blogger yang expert dalam bidang tertentu.

Dalam sepak bola, tim yang spending-nya kecil hanya bisa menjual pemainnya ketimbang menaikkan level.

Saya tidak ingin membahas banyak di dunia esport dan desain karena memang beginilah dunia berjalan. Uang adalah energi. Dalam drama korea yang saya tonton uang: kekuatan dan kekuasaan.

Tidak ada yang salah di era pasar bebas seperti saat ini. Namun yang membuat saya sedikit kesal hanyalah “konten/produk tak bermutu dengan kuantitas yang besar” dan didukung oleh algoritma.

Dalam sepak bola, saya suka permainan penyerang, total football. Saya bisa mengerti mengapa klub kecil tidak mengambil resiko dengan bermain seperti itu. Namun saya kesal ketika ada tim besar yang punya kapasitas melakukannya malah bermain seperti tim kecil.

Konten sampah dari ikan besar yang terus dikonsumsi masyarakat dan algoritma mempersilahkan itu.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *