Menjadi Domba Premium

Domba, itulah sebutan bagi para pengikut coach Justin yang sekarang lagi naik daun. Bahkan saat ini ada yang namanya domba premium, yaitu orang-orang yang menjadi member dari channel coach Justin di YouTube.

Dengan adanya beliau, semakin banyak orang yang bisa menikmati sepak bola dengan sudut pandang yang lebih seru.

Awalnya, saya mengenal beliau melalui video dari channel topscore tv yang diunggah 3 tahun lalu.

Di channel tersebut beliau sedang diajak ngobrol oleh owner dari channel topscore tv, mereka membahas banyak hal, khususnya sudut pandang beliau soal futsal di Indonesia. Dari sana saya menjadi tertarik untuk mengikuti beliau, mulai dari channel pribadi miliknya, Twitter, hingga Instagram.

Saya sangat berterima kasih, karena apa yang beliau sampaikan cukup membuka wawasan saya dan beberapa memberikan dampak positif secara tidak langsung ke kehidupan, terutama untuk menjadi orang yang lebih rendah hati, percaya diri serta tegas.

Karena saking seringnya saya menonton video beliau juga, saya sampai hafal diksi-diksi yang sering digunakan.

Di artikel ini sebenarnya saya bukan fokus untuk menuliskan pengalaman saya selama menjadi member di channel coach Justin, melainkan juga menyampaikan pendapat saya tentang dunia sepak bola, beberapa di antaranya adalah jawaban saya kepada netizen “kardus” yang syukurnya bisa menjadi inspirasi untuk menulis artikel ini.

Ada banyak hal yang saya bahas, khususnya tentang sepak bola. Saya mulai dari istilah ugly win dan hoki.

Keberuntungan dalam Sepak Bola

Liat proses di lapangan, terutama dari segi create chances dan form of the day para pemain.

Kalau tim, dari cara bermainnya berantakan tapi menang = hoki, beratakan bukan berarti main bertahan, main bertahan belum tentu gak rapi.

Begitu juga sebaliknya, kalau tim udah create banyak peluang tapi faktor bola kena tiang, form of the day pemain jelek, kiper lawan penampilannya di atas biasanya, dll tapi gak menang = kurang beruntung.

Saya bukan domba koci garis keras, ini juga cuma pendapat saya terkait hoki dan tidak.

Tapi saya memahaminya seperti itu, karena tiap lihat koci bahas bola dia selalu ngomongin proses, makanya JusTalk juga gak text-book, bandingin aja sama media dan channel lain yang kebanyakan bahas data.

Saya suka koci, karena posisi gue di industri sepak bola sebagai penikmat, jadi kalau ga nonton match secara langsung gimana prosesnya 90 menit ga mau komen. Apalagi modal statistik live score. Sebab dalam sepak bola begitu banyak variabel.

Klub Seksi dan Tidak Seksi

Saat artikel ini ditulis, beberapa waktu sebelumnya ramai tentang informasi bursa transfer sepak bola, khusunya menyorot klub seperti Chelsea yang mulai dianggap kurang seksi dan Barcelona yang dianggap masih seksi.

Hal ini tidak terlepas dari kontroversi, di mana ada beberapa nama pemain yang diincar Chelsea justru berlabuh ke Barcelona. Istilah lainnya adalah “dibajak”.

Sebut saja Kounde, ia diiming-imingi gaji yang hampir dua kali lipat lebih besar dibanding jika ia bergabung dengan Barcelona, tetapi dia justru memilih Barcelona.

Sementara itu ada beberapa pemain Chelsea juga yang direkrut Barcelona dari Chelsea, seperti Christernsen dan rumornya masih ada Azpi serta Alonso yang juga diincar Barcelona.

Kenapa begitu? karena Barcelona masih seksi. Gampangnya seperti itu, tetapi menurut saya pribadi seksi itu masih bisa dibedah lagi dari beberapa variabel.

Chelsea dianggap kurang Chelsea sebab sejak owner baru datang klub tersebut diangaap tidak memiliki tujuan yang jelas. Di samping itu performa Chelsea juga gak bagus-bagus banget mulai di paruh musim 2021/2022. Selain itu ada faktor seperti lingkungan di Inggris.

Sementara di Barcelona sebenarnya tidak sedang menjadi tim unggulan juga di kompetisi Eropa, akan tetapi target mereka di kompetisi Eropa cukup jelas. Di sisi lain Barcelona juga kedatangan Presiden Laporta, setelah presiden sebelumnya, Bortomeu diganti. Laporta memiliki historis yang bagus di klub Barcelona sebab ia sudah pernah membawa Barcelona dari keadaan yang pas-pasan menjadi klub yang sukses.

Ya, mungkin ini masalah strategi tawar menawar yang sepertinya Barcelona lebih efektif. Mungkin Anda juga perlu mempelajari istilah “Bargaining Power”. Sebab menurut coach Justin, Chelsea itu kurang bisa meningkatkan bargaining power yang mereka miliki, khususnya setelah statement pelatih mereka Thomas Tuchel memberikan statement yang dianggap tidak bisa melindungi para pemainnya.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.