Sunk Cost

Sunk cost, apa itu?

Menurut laman WikiPedia dalam bahasa Inggris, definisi dari sunk cost adalah sebagai berikut.

Pengertian Sunk Cost

In economics and business decision-making, a sunk cost (also known as retrospective cost) is a cost that has already been incurred and cannot be recovered

Menurut beberapa sumber, ada juga yang menyebut sunk cost fallacy, kurang lebih artinya sebagai berikut.

Sunk cost adalah biaya yang telah dikeluarkan dan tidak dapat diperoleh kembali. Biaya yang hangus tetapi tidak menghasilkan kemajuan.

Sementara jika orang yang terjebak di sunk cost fallacy adalah orang yang takut menghindari kerugian dengan tetap bertahan meskipun sebenarnya secara logika berat untuk terus dilanjutkan.

Istilah sunk cost sebenarnya berasal dari ranah ekonomi, akan tetapi bisa juga ditemukan di kehidupan sehari-hari.

Contohnya dalam hal-hal berikut.

Contoh Sunk Cost Fallacy dalam Kehidupan Sehari-hari

Relationship

Ketika Anda berada di sebuah hubungan, tetapi setelah beberapa tahun hubungan tersebut menjerumus ke hubungan yang toxic, Anda jadi berpikir ingin mengakhiri, tetapi Anda merasa sayang karena sudah menjalaninya terlalu lama. Sudah banyak yang Anda upayakan untuk hubungan tersebut.

Msalahnya adalah, jika Anda masih melanjutkan, sebenarnya hubungan tersebut semakin lama akan semakin buruk dan sukar diperbaiki.

Karir

Ketika seseorang sudah nyaman bekerja di sebuah perusahaan, akan tetapi sudah merasa jenuh dan tidak bahagia hingga menimbulkan depresi. Sayangnya orang tersebut juga enggan untuk resign karena sudah cukup lama berkarir di perusahaan tersebut. Meskipun sebenarnya ada peluang di perusahaan lain.

Kuliah

Ketika seorang mahasiswa sudah berada di semester empat, tetapi semakin lama dia merasa tidak cocok dengan jurusan yang diambil. Dia menjadi berharap kedepannya masih bisa bertahan, padahal realitanya dia tahu kalau kedepannya akan semakin berat.

Lalu?

Istilah sunk cost dan sunk cost fallacy memang berasal dari dunia bisnis dan ekonomi.

Sebagai contoh paling mudah adalah Nokia yang menganggap sistem operasi Android dan iOS menjadi ancaman hingga enggan beralih dari sistem operasi yang mereka buat sendiri. Akibatnya Nokia mengalami kejatuhan.

Hal seperti itu cukup tricky. Sama seperti saat kita akan mengambil sebuah keputusan di kehidupan sehari-hari.

Menurut beberapa orang dan saya juga setuju, ada baiknya kita move on serta melupakan sunk cost ketika mengambil sebuah keputusan.

Bias-bias untuk menghindari kerugian demi menggapai potensi yang lebih besar akan tetap menghampiri. Tetapi dalam konteks tertentu, jika kita tidak segera move on, hal tersebut justru dapat menimbulkan kerugian yang semakin besar.

Tentu saja, mengabaikan sunk cost dalam mengambil keputusan bukan berarti mengesampingkan pertimbangan, hanya saja kita harus berani melangkah berdasarkan cara berpikir yang rasional.

Keterlibatan bias dan emosi tidak bisa kita hindari, tetapi dengan wawasan mengenai sunk cost, paling tidak kita tahu bahwa ada hal yang secara logis memang harus kita relakan demi melangkah ke depan.

Kesimpulan

Kita memang tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya.

Sunk cost sering menghantui pikiran kita ketika mengambil sebuah keputusan.

Tetapi buat saya pribadi, kita justru bisa membalikkan keadaan dengan mengambil sebuah pelajaran.

Istilahnya, sunk cost di dunia ekonomi dan kehidupan sehari-hari bisa kita bedakan.

Di dunia bisnis dan ekonomi, keputusan yang kita ambil terkait sunk cost dapat memberikan dampak ke perusahaan dan banyak orang.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, sunk cost bersifat abu-abu (relatif). Biaya yang telah kita keluarkan sebenarnya tidak benar-benar hilang, sebab jika kita bijak kita tetap dapat mengambil pelajaran dari sunk cost tersebut.

Kita dapat memaknai sunk cost dengan growth mindset.

Apa yang telah terjadi dan seakan-akan menjatuhkan kita, sebenarnya bisa kita ambil pelajaran dari sana dan membuat kita semakin melesat di kemudian hari.

Mungkin itu saja yang ingin saya tulis terkait sunk cost hingga saat ini. Bisa jadi artikel ini akan saya revisi kedepannya.

Saya bukan ahli ekonomi, bahkan mustahil keputusan yang saya ambil selalu tepat, tapi paling tidak saya ingin menyampaikan agar kita lebih bijak dalam memaknai sunk cost, khususnya dalam konteks kehidupan pribadi.

Kesalahan tidak sama dengan kegagalan. Kesalahan adalah proses dari belajar, sedangkan kegagalan hanya milik orang-orang yang mengalami keputusasaan.


Video menarik terkait Sunk Cost dan Sunk Cost Fallacy:



Referensi terkait:

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.