Shopee Bangkrut?

Shopee bangkrut, masa sih?

Sangat sulit dibayangkan, terutama bagi mereka yang awam soal industri start-up, bahwa perusahaan sebesar Shopee bisa mengalami kebangkrutan.

Sebab kehadiran Shopee sebagai e-commerce di beberapa negara termasuk Indonesia berhasil mendistrupsi perilaku masyarakat untuk berbelanja secara online.

Layaknya sebuah start up lainnya, Shopee memulai bisnis dengan tujual awal mengumpulkan customer (user dan seller) sebanyak-banyaknya dan secepat mungkin dengan cara bakar duit.

Suntikkan dana yang mereka dapatkan dari para pemodal mereka gunakan untuk memberi penawaran yang menarik kepada user.

Penawaran tersebut bermacam-macam.

Contohnya saja seperti diskon, flash sale, voucher gratis ongkir.

Selain itu masih ada fitur-fitur yang diselipkan seperti Shopee Paylater dan SPinjam yang memungkinkan pengguna untuk membeli barang secara kredit hingga mendapatkan pinjaman hanya dalam satu aplikasi.

Shopee juga membuat program Shopee Affiliate yang memungkin siapa saja bisa menjadi partner dan menghasilkan keuntung dengan mempromosikan produk-produk yang dijual lewat Shopee.

Mungkin, sebagian orang tidak terpikirkan jika apa yang dilakukan oleh perusahaan sebenarnya adalah kegiatan bakar duit.

Bahkan bukan tidak mungkin beberapa orang berpikir bahwa Shopee adalah perusahaan yang sukses mencetak keuntungan besar.

Faktanya, mereka justru menambah nilai kerugian.

Lalu, apa yang membuat mereka mampu untuk terus-terusan melakukan aksi bakar duit?.

Jawabannya tentu saja karena pemodal.

Pemodal yang berasal dari VC (Venture Capital) bukan sekadar perusahaan manajemen asset biasa, bahkan mereka jauh lebih besar daripada Reksadana.

Shopee terus mendapatkan suntikan dana dari berbagai pihak (termasuk VC) lewat induk perusahaannya (Sea Limited) dengan nominal gila-gilaan.

Apalagi hal tersebut tidak hanya dilakukkan sekali saja, melainkan dalam beberapa tahun ke belakang Shopee sudah sering mendapstkan suntikan dana.

Sea Limited dapat suntikkan dana

Tentu saja, hal-hal seperti itu memberikan ekspetasi kepada banyak pihak bahwa Shopee akan menjadi penguasa e-commerce, khususnya di wilayah Asia Tenggara.

Meskipun realitanya, mereka juga terus menerus mencatatkan kerugian gila-gilaan.

Seperti yang kita tahu, urip iku sawang sinawang.

Shopee Bankrut?

Belakang telah ramai diberitakan dan dibicarakan di media sosial isu tentang kebangkrutan Shopee.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah imbas kebangkrutan yang disebut membuat Shopee terpaksa melakukan PHK karyawan.

Sementara menurut berita lainnya juga menyebutkan bahwa Shopee mulai menutup beberapa kantor di sejumlah negara.

Berita Shopee Bangkrut dan PHK Karyawan

Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa para pemimpin di Shopee sudah mencapai batas maksimal, sehingga tidak ada lagi yang bisa dikembangkan, alias pertumbuhan bisnisnya sudah mencapai puncak.

Sementara, jika menurut saya pribadi, ini semua terjadi karena Shopee harus mulai mengurangi bakar duit yang gila-gilaan (tidak seperti sebelumnya) akibat kenaikan inflasi dan suku bunga.

Sehingga mereka harus mulai memikirkan soal efisiensi.

Lalu, apa korelasinya dengan kenaikan suku bunga?

Saat ini inflasi memang sedang tinggi, bahkan ancaman resesi juga sering diberitakan.

Sementara untuk mengurangi inflasi, bank sentral perlu menaikkan suku bunga.

Ingat, ketika suku bunga dari bank sentral dinaikkan, maka bank-bank hingga pemodal juga akan menaikkan bunga untuk para peminjam modal.

Setelah suku bunga dinaika start up sudah tidak bisa lagi mendapatkan uang dengan mudah seperti sebelumnya.

Itulah yang membuat perusahaan start up seperti Shopee juga mulai memperhatikan efisiensi.

Bayangkan jika sebelumnya sebuah perusahaan dapat meminjam uang ke bank dengan bunga 0%, maka mereka akan lebih berani meminjam modal sebanyak-banyaknya untuk melakukan aksi bakar duit.

Lalu, ketika suku bunga naik, bank hingga pemodal juga penaikan bunga mereka maka pihak yang menerima modal juga harus mengurangi aksi mereka yang kurang menguntungkan perusahaan.

Akibat dari semua itu keberadaan start-up menjadi terancam, tak terkecuali dengan Shopee.

Bahkan mulai bulan lalu, sudah beredar kabar bahwa komisi untuk partner Shopee Affiliate juga akan dikurangi. Baca artikel Komisi Shopee Affiliate Berkurang, Apakah Masih Menjanjikan?.

Lalu sebenarnya, bagaimana kaitannya dengan inflasi?


Sebelumnya, saya sudah pernah mengetweet soal hal ini, yaitu kenaikan suku bunga dan hubungannya dengan aksi PHK yang dilakukan oleh masyarakat.

Tweet terkait suku bunga dan PHK

Sayangnya saya memang tidak mempublish akun Twitter saya publik, tetapi paling tidak saya akan jelaskan juga di sini.

Isinya kurang lebih berikut.


Ketika inflasi sedang tinggi, maka bank perlu menaikkan suku bunga untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dan menekan inflasi.

Akibatnya banyak perusahaan harus berhemat (karena pinjam uang bunganya sedang tinggi)

Karena perusahaan sedang berhemat, mereka akan memangkas sebagian service atau mengurangi jenis produk yang tidak mendatangkan keuntungan atau paling merugikan.

Akibatnya, akan ada PHK karyawan, terutama posisi karyawan yang bekerja untuk melakukan service atau membuat produk yang kurang menguntungkan perusahaan.

Intinya, perusahaan yang sebelumnya bisa mengincar pertumbuhan customer menjadi mengincar efisiensi.


Penjelasan lainnya terkait suku bunga dan inflasi.

Suku bunga bisa naik bisa turun, bahkan 0% (istilahnya uang gratis), mungkin bagi yang tidak tahu gak bakal percaya kalau suku bunga bisa sangat rendah bahkan 0% kemudian bertanya “kok bisa?”.

Tentu, suku bunga 0% bertujuan untuk meningkatkan kestabilan ekonomi, inflasi, dan menambah lapangan pekerjakaan.

Kondisi ekonomi itu memang fluktuatif, sementara inflasi itu memang diperlukan, bahkan inflasi yang jauh lebih baik ketimbang deflasi. Hanya saja inflasi yang terlalu tinggi juga berbahaya.

Ketika suku bunga 0% dan bank serta para pemodal juga menurunkan bunga pinjaman, maka akan banyak pihak yang berani memnjam uang sebagai modal untuk usaha.

Modal usaha > Bikin usaha > Menyerap tenaga kerja, mengurangi tingkat pengangguran

Itu dia artikel saya menyikapi isu Shopee yang katanya bangkrut, apakah akan bangkrut beneran? saya rasa tidak atau mungkin perlu diperjelas istilah bangkrut itu yang seperti apa.

Kalau berita-berita seperti itu tentu sudah pasti akan banyak, sebab memang media memerlukan berita seperti itu, apalagi banyak katalis yang mendukung seperti PHK dan penutupan kantor.

Namun jika dilihat secara garis besar sebenarnya kebangkrutan itu belum tentu akan terjadi, meskipun bisa terjadi tetapi tidak dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Sebenarnya sejak awal didirikan, start up seperti Shopee memang mengalami kerugian yang gila-gilaan jika kita lihat dari sisi laba.

Start up itu umunnya disuntik oleh VC, sementara VC dana yang dimiliki VC berasal dari kalangan investor kaya raya, investasi bank, dan lembaga keuangan lainnya.

Lalu, ketika suku bunga naik seharusnya sudah dapat diprediksi, kalau para pemilik start-up menjadi tertekan hingga kemunculan berita kebangkrutan yang akan terus dijadikan gorengan media.

Start up seperti itu memang pertumbuhan customernya cepat, tapi pada akhirnya mereka juga harus realistis bahwa bisnis itu juga perlu mendapatkan profit.

Memang ada bikin bisnis cuma buat rugi?

Bagaimana pendapatmu? tulis di komentar ya.


Kenali istilah VC (Venture Capital)

  • https://koinworks.com/blog/mengenal-perusahaan-venture-capitalist-di-sillicon-valley/#Cara-Kerja-Venture-Capital

Sumber berita:

  • https://banten.hallo.id/ekonomi-bisnis/pr-564841312/shopee-bangkrut-kekayaan-forrest-li-menghilang-rp-2416-triliun
  • https://dailysocial.id/post/gdp-venture-berpartisipasi-dalam-pendanaan-baru-untuk-induk-shopee-senilai-7-triliun-rupiah
  • https://www.techinasia.com/sea-group-allocates-1b-to-new-fund-sea-capital-manage-investments
Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.