Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belanja Sayur Secara Offline Vs Online

sumber gambar: kumparan.com

Saya menemukan sebuah postingan dari salah seorang pengguna Facebook. Ia mengajak diskusi anggota sebuah grup dengan pertanyaan "Mengapa kebanyakan orang memilih belanja sayur secara konvensional (dari warung, pasar, atau tukang sayur) dan jarang menggunakan aplikasi belanja sayur? Padahal teknologi belanja sayur lewat aplikasi tergolong canggih".

Saya kemudian teringat sebuah startup yang bernama Sayurbox. Startup tersebut menawarkan kemudahan untuk bebelanja sayur secara online melalui website dan aplikasi. Keren banget kan?...

Tapi kok kayanya startup kaya gini masih belum ramai ya?

Mungkin, mungkin saya salah karena saya tinggal di kampung. Tetapi ada pengguna Facebook yang menyatakan bahwa di sekitar wilayahnya terdapat gudang dari aplikasi belanja sayur online dan katanya ramaiii...

Sejauh ini saya belum menemukan seorang kenalan yang sudah beralih dari berbelanja sayur secara offline menjadi online, hmm kenapa ya kira-kira?

Kalau saya pikir-pikir, mungkin ini beberapa alasan kenapa masyarakat lebih senang belanja sayur secara offline.

1. Too Early

Kebanyakan yang belanja di pasar itu ibu² atau usia orang tua ke atas. Sedangkan start up belanja sayur via web/app memiliki tampilan dan fitur kekinian yang terlalu asing buat mereka.

5-10 tahun lagi kali ya, belanja sayur online baru bener-bener bisa diterima, karena usia orang tua (terutama ibu, yang biasanya belanja) sekarang masih muda dan udah familiar sama belanja online.

Ini belum tentu bisa ngalahin yang offline juga ya, tapi lebih diminati ketimbang sekarang.

2. Jarak

Lokasi pengiriman. Barang jauh dari tempat tinggal pembeli, harus nunggu waktu dan mungkin nambah biaya ongkos kirim. Banyak yang jual sayur jaraknya deket dan variatif.

Lah di kampung kaya saya gini masih ada pasar tradisional yang jaraknya ga sampe 500m.

Selain itu ada Ethek Lawu (penjual keliling) pake motor maupun pick up. Mereka jemput pembeli. Tiap pagi lewat depan rumah dan berhenti di sekitar.

Mungkin hampir sama kaya kasus minimarket (alfa indo vs supermarket vs marketplace. Kenapa Alfamart sama Indomart masih laku padahal ada yang jual secara online?, jawab sendiri deh...

3. Ga Bisa Milih

Sekalipun kualitasnya emang bagus tapi calon pembeli kan emak², di mana udah berpengalaman beli sayur. Jadi mereka ga gampang percaya dengan embel² kualitas, kecuali bisa lihat dan pegang langsung.

4. Beda Harga

Tentu aja weng buat start up udah keren masa mau ternodai sama kualitas sayur yang b aja, nah sementara dengan kualitas yang bagus naik juga tuh biaya perawatan dsb dari suplier

5. Tawar Menawar

Ga tau ya di app/web start up jualan sayur bisa nawar apa engga, tapi ini udah jadi culture pedagang dan pembeli, jadi kalau ga bisa tawar menawar kaya kurang juga...culture


Kesimpulan...

Belanja sayur di pasar/offline juga udah jadi culture. Tau sendiri gimana susahnya membentuk culture baru...termasuk interaksi secara langsung saat offline yang bisa membuat akrab antara penjual dan pembeli.

Jika kamu punya pendapat, silahkan komentar ya.. mari kita berdiskusi...



Posting Komentar untuk "Belanja Sayur Secara Offline Vs Online"