Saya dan Peringkat Dua dari Belakang

Ceritanya di tulisan ini saya mengetikkan isi kepala saya dengan sedikit flashback ke masa-masa saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Ya, kelas 2 SMP, saat saya rangking 2 dari belakang dan rangking 1 dari belakangnya adalah teman saya satu bangku.

Kelas 2 SMP adalah saat di mana saya pertama kali hampir selalu duduk di bangku paling depan saat ujian karena nomor urut 1. Mau gak mau harus nerima kenyataan kalau emang cuman bisa halu buat jawab soal essai.

Saat itu juga saya pernah merasakan dihukum untuk memberisahkan toilet menggunakan sabut kelapa, hanya karena tidak bisa perkalian matematika saat ditunjuk maju ke depan.

Tapi di sinilah salah satu masa transisi yang secara tidak sadar membuat saya menjadi lebih baik, secara saat SD saya anak yang bandel sampai pernah di sidang di ruang kepala sekolah karena rokok. Ya, ini fakta.
_

Meskipun pernah ada di peringkat ke dua dari belakang waktu duduk di bangku sekolah tapi bisalah aku untuk buktiin kalau cara berfikirku gak sejelek nilai akademis waktu waktu itu

Mampus lah orang² yang mendewakan nilai di sekolah sebagai indikator kecerdasan dan kesuksesan seseorang

Nilai yang ada di sekolah menengah dan dasar sampai saat ini realitanya hanya menilai wawasan seseorang, bukan cara berfikir, logika, dan nalarnya

Bahkan nilai itu banyak yang manipulasi, bukan atas kemampuan yang sebenernya

Gak heran kalau pas besar masih banyak yang takut gagal, akhirnya gak berkembang, weng pas sekolah punya nilai jelek aja di lingkungan dibuat seakan orang paling berdosa

Padahal gagal bisa bangkit dan gagal adalah proses belajar untuk tidak gagal

Faktanya dengan nilai jelek tetapi hasil kerja sendiri itu artinya ada kesadaran akan kekurangan

Dengan sadar maka pribadi tersebut sangat mudah mempunyai growth mindset

Dan ini sangat berguna ketika seseorang bertumbuh jadi manusia dewasa, sangat mungkin ia akan melesat

For sure, aku juga bukan orang yang gak pernah curang, nyontek, atau apalah

Tapi paling gak aku pernah ngerasain jadi orang jujur yang diinjek² karena nilai yang jelek

Dan fatalnya lagi ini berkaitan dengan attitude, ketika di sekolah gak ada guru yang bisa menilai semaksimal mungkin gimana attitude muridnya, ya karena mereka hanya melihat beberapa waktu sekali

Padahal waktu dewasa attitude dan kecerdasan emosional itu vital banget untuk tumbuh secara pribadi dan bermasyarakat

Meskipun bukan orang yang selalu berhasil atas setiap keputusan karena realita yang sangat komplek, atleast bisa jadi orang yang selalu mengusahakan jujur dan bertanggung jawab

*catatan:
  • bukan berarti nilai akademis gak bisa digunakan untuk menilai kecerdasan seseorang, melainkan nilai akademis gak menjamin kecerdasan bahkan keberhasilan orang dalam hidupnya, dua hal yang berbeda

  • bukan berarti akademik tidak penting, sama sekali tidak, melainkan bukan segalanya, yang artinya kita punya chance untuk memperbaiki hidup sekalipun saat dulu duduk di bangku sekolah kita pernah kurang beruntung

  • bayangin kalau secara akademik kamu jago dan di luar akademik juga jago, bakalan lebih baik lagi kalau bisa kaya gitu

  • gak ada sama sekali tulisan ini diketik untuk mengklaim bawasannya aku orang yang berhasil, karena hidup ini terlalu kompleks dengan rentetan keputusan, ada yang berhasil dan pasti tidak, sedang garis besarnya akan terlihat jika seseorang udah ga ada

  • posisi sekarang juga secara sadar masih sedang berproses, tulisan dibuat untuk meluapkan isi pikiran dan diskusi (kalau ada yang mau)
Terima kasih telah membaca. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan, kesempatan, dan kekuatan untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan berkecil hati, mari kita saling mendukung.

#CMIIW

Posting Komentar untuk "Saya dan Peringkat Dua dari Belakang"