Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Diri Sendiri Vs Adaptif

Ada bugar dan lelah yang sudah kujalani hingga kini. Ada puncak, ada juga jurang yang sangat dalam. Jika tidak beruntung mungkin aku sudah mati beberapa kali. Dari emosi seseorang, maupun kecerobohan sendiri.

Saat itu, aku benar-benar tak sanggup, lalu bertanya, "yang benar jadi diri sendiri atau adaptif?".

Entah sejak kapan aku mulai bertanya bagaimana cara hidup yang benar, tapi sungguh risih ketika ada banyak prinsip berbeda yang kudengar. Ketika A bilang ini yang terbaik, si B justru sebaliknya.

Menjadi diri sendiri dan adaptif ini sudah terlalu kompleks.

Menjadi diri sendiri

Kata orang kita itu harus menjadi diri sendiri agar kita tak tersakiti dan unik. Menjadi diri sendiri tentu terdengar bagus, kita percaya dengan apa yang kita tahu lebih dahulu. Ini membuat kita mempunyai ciri khas.

Misalnya, Indonesia yang kaya dengan batik, maka tampil mengenakan batik di pertemuan internasional sungguh membanggakan.

Karena aku suka sepak bola, contoh lain terjadi dalam sebuah tim. Ketika 10 orang bermain dengan visi, satu orang diantaranya yang bermain dengan skill akan terlihat menonjol dan bisa memberikan perubahan.

Tapi, jangan terlalu idealis, nanti kamu akan hancur.

Menyesuaikan diri

Bisa dibilang kalau kita gak adaptif kita akan hancur, sebab semua akan berubah seiring berjalannya waktu yang dibalut dengan kejadian-kejadian super abstrak.

Kalau dalam bisnis, ini banyak sekali contohnya, salah satunya pada tahun 2018, berbagai perusahaan top 10 brand pusat perbelanjaan ternama di dunia merugi drastis dan menggulung tikar di lebih dari 300 outlet mereka akibat migrasi trend berbelanja online yang tumbuh sebesar 300%.

Di dunia nyata juga ada, sekalipun kamu lulusan jurusan teknik informatika, tapi ketika kamu bekerja di studio foto, mau gak mau juga harus belajar ilmu tentang fotografi.

Contoh lain?. Pemain sepak bola yang harus menyesuaikan taktik sesuai arahan pelatih berdasarkan kondisi pertandingan.

Tapi, jangan terlalu adaptif, nanti kamu kehilangan ciri khas.

Lalu?

Ternyata tidak ada satu prinsip populer yang kuambil, dari banyaknya nilai yang sering disorakkan kebanyakan orang seperti:

  • menjadi diri sendiri
  • pinter menyesuaikan diri
  • menjadi orang yang jujur
  • menjadi yang tercepat
  • menjadi terpopuler
  • dan masih banyak lagi
Sebab, nilai di atas akan jadi bumerang ketika tidak diletakkan di waktu yang tepat. Ingat! hidup juga tentang timing. Dan kadangkala ada yang manusia tidak bisa jamin (termasuk keputusan Tuhan).

Ada yang dengan cara A orang itu sukses, ada juga yang sebaliknya. Ada yang yang cepat itu bagus, ada juga yang lambat itu bagus. Karena rezeki orang memang berbeda, sekalipun ada rerataan dari semua kisah yang terjadi.

Pada akhirnya aku mempunyai prinsip "menjadi orang yang hebat dalam mengambil setiap keputusan".

Ini berarti adaptif, tetapi adaptif yang paling luas. Yang di bawahnya masih ada adaptif lagi, menjadi diri sendiri, dan lain-lain.

Secara tidak sengaja aku juga menyusun kalimat berikut.

Kadang sabar itu baik, kadang tegas lebih baik. Karena gada rumus paten untuk jalanin hidup, maka berusahalah jadi orang yang setiap pengambilan keputusannya tepat.
Jika ini (prinsip di atas) batang pohon. Iklhas dengan konsekuensi dari berproses adalah rantingnya. Maka memaafkan jatunya ranting adalah cara terbaik untuk tetap tumbuh (kegagalan saat berproses untuk mendapatkan keputusan terbaik).

Tentu saja, prinsip hidup boleh lebih dari satu, ini tadi hanya salah satu yang aku prioritaskan, sisanya masih banyak hal baik untuk dipegang.

Lalu akan ada momen yang lebih rumit.

Jangan terlalu idealis, nanti kamu akan hancur. Jangan terlalu adaptif, nanti kamu kehilangan ciri khas.

Ketika adaptif yang luas lebih prioritas, maka ada hal yang lebih rumit untuk saling berbagi arah. Ini yang disebut berubah tetapi masih mempertahankan ciri khas.

Jika dalam sepak bola, ada formasi 4-4-2, kemudian variasinya bisa flat atau diamond. Kalau ngomongin rasa masakaan bisa manis, tapi juga asin. Keduanya bisa ada dalam satu keputusan dan satu momen.

Maka kembali lagi, akan ada banyak opsi, seperti:
  • Asin banget
  • Manis banget
  • Asin manis
  • Asin dominan manis
  • Hambar

Yang paling tepat ini yang harus dicari sendiri sesuai situasi dan kondisi yang sedang terjadi guna mencapai keputusan yang tepat saat itu juga.

Jika kamu berusaha untuk hebat dalam mengambil keputusan, aku rasa hidupmu akan lebih baik. Tentu saja ini sangat rumit, sebab akan banyak situasi yang super abstrak.

Bisa saja saat kamu merasa ini harus ditangani dengan tegas, ternyata lebih tepat ditangani dengan kesabaran.

Bisa juga saat kamu memberi nasehat ke orang lain, ini justru menganggu mereka. Tetapi saat kamu enggan menasehati ternyata orang tersebut justru mengharapkan nasehat.

Tetapi paling tidak dengan terus berusaha 

Hidup juga perkara trial dan error, untuk menemukan pakemmu sendiri.

Sekian.

3 komentar untuk "Menjadi Diri Sendiri Vs Adaptif"

  1. Mantap pak kata" dan inspirasi nya ,memang kalo bukan kita sendiri yang menentukan ya siapa lagi,
    Terus juga kalo memilih pilihan gak selalu sama, misal jadi diri sendiri memang baik tapi ada kalanya kita mencari inspirasi atau motivasi orang lain agar kita tambah pengalaman

    BalasHapus
  2. Aku rada-rada bingung sih bacanya hihi banyak kiasan. Tapi, intinya tentang prinsip hidup kan ya? Aku...mungkin adatif/? mungkin engga, mungkin idealis, mungkin engga. Sebenarnya penggunaan prinsip-prinsip itu ya bener katamu, sesuai waktunya aja sih.

    Oh iya, aku pernah baca untuk mengambil suatu keputusan yang tepat dianjurkan untuk bisa bermatematika dan berlogika yang benar, mungkin ranahnya dalam filsafat. Aku lagi tertarik sama hal-hal itu sih haha. Mungkin bisa jadi referensi ilmu, Fau.

    BalasHapus