COVID-19 di Indonesia: Ketakutan, Ekonomi, dan Kesehatan

Sudah lama saya memikirkan untuk menulis artikel ini, tapi entah kenapa rasa malas dan kurang memprioritaskan menyerang. Sehingga artikel ini bisa baru bisa terbit di hari ini.

Kalau boleh jujur-jujuran, sebenarnya saya juga malas membicarakan tentang virus yang satu ini, bukan karena tidak peduli, tapi karena saya rasa semua orang sudah mengerti apa itu COVID-19.

Selain itu memikirkan virus yang belum jelas kapan hilangnya ditambah dengan media yang membuat berita sebegitu menakutkannya membuat saya terngiang-ngiang dan terkena efek psikisnya.

Pernah saat itu, saat berita COVID-19 awal awal muncul di Negeri tercinta ini, saya overthingking tentang virus tersebut, melihat peta penyebaran, data kematian, dan prediksi yang cenderung mengerikan untuk kedepannya.

Akibatnya saya susah tidur, pernah juga mengalami tiba-tiba napas terhenti dan menjadi manual, hingga tenggorokan gatal sampai beberapa hari. Entahlah, apakah saya juga gejala?.

Jujur juga saya pernah menghubungi pihak rumah sakit di Magetan melalui WhatsApp terkait hal ini, tetapi karena balasannya terlalu lama saya jadi mikir lagi dan mengurungkan niat untuk meneruskan penyampaian saya terkait hal ini.

Alasannya karena saya rasa saya tidak mungkin kena COVID-19 saat itu, apalagi tidak kemana-mana dan berinteraksi dengan pasien, aneh. Di samping itu kalau saya lapor apakah ini menjadi lebih baik, terutama bagi pikiran saya, atau justru saya semakin depresi.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari bagaimana cara menyembuhkan dan lain sebagainya. Selain itu, mulai saat itu juga saya menyetop mengkonsumsi berita-berita terkait COVID-19. Saya sering mengurung diri di kamar dan mencari hiburan seperti bermain games.

Setelah itu beberapa hari kemudian tiba-tiba ada teman yang memberi informasi mengenai salah satu utas di Twitter yang seperti dibuat oleh seorang dokter.

Tweet tersebut mengatakan bahwasannya orang yang mengalami gejala belum tentu benar-benar gejala, itu semua bisa terjadi karena efek psikis dari berita tentang COVID-19.

Sontak saya penasaran dan melihat balasan dari Tweet tersebut dan WAW!. Ternyata yang merasakan hal demikian bukan hanya saya, tapi banyak pake BANGET.

Beliau menjelaskan bahwa mengkonsumsi berita-berita tentang COVID-19 yang masuk ke otak kita bisa mempengaruhi kita untuk seakan merasakan hal yang sama seperti yang dialami penderita virus tersebut.

Lalu, konflik pertama yang saya pikirkan terjadi, apa itu?

 Kita harus waspada, tapi gak boleh panik 

Informasi yang masuk itu sebenarnya bagus juga, supaya kita aware. Bayangin kalau tidak ada informasi terkait COVID-19 yang semenakutkan ini, mungkin kita akan menyepelekannya.

Tetapi kalau informasi ini dikonsumsi secara berlebihan juga berbahaya, bisa panik sendiri dan imbasnya ke psikis.

Jadi intinya sebisa mungkin untuk waspada dengan menjaga kesehatan, tapi juga menjaga otak agar tidak terlalu overthinking serta panik.

Skip.

Yuk, masuk ke masalah berikutnya yaitu...*jeng jeng, jeng jeng....

 Ekonomi Vs Kesehatan 

Kita tahu, bawasanya ekonomi di negara ini merosot karena adanya COVID-19. Banyak sekali kejadian-kejadian mengerikan terkait perekonomian, beberapa diantaranya sebagai berikut.
  • Jual beli barang dan jasa yang dilakukan secara konvensional menjadi terhambat
  • Banyaknya perusahaan yang pendapatannya anjlok mengakibatkan sebagian perusahaan melakukan PHK terhadap karyawannya
  • Lowongan pekerjaan yang terbatas semakin tak terlihat, semua orang banyak yang menganggur dan tidak mendapatkan masukan
  • Beberapa tagihan dan cicilan terus berjalan meskipun ada COVID-19, biasanya saya menemui hal ini di cicilan motor, bayar kost/kontrakan, dan lain sebagainya
Dari di atas, mungkin masih banyak lagi imbas yang lainnya. Tapi itu semua sudah cukup mengerikan. Sementara belum ada solusi yang bisa menjamin negara kita bisa melewati ini semua dengan sebaik mungkin.

Bantuan yang diberikan pemerintah saja, kurang jelas kalau saya lihat dan mungkin gak seberapa. Justru saya kagum dengan masyarakat yang mau menggerakan donasi dan bantuan kepada saudara kita sendiri.

Memang harus begitu sih, hutang negara saja banyak, gimana mau menjamin kebutuhan pokok orang-orang kalau disuruh #StayatHome yang gak tahu sampai kapan.

Kasihan orang yang hari ini gak kerja, besok gak makan, apalagi yang merantau punya tanggungan bayar cicilan dan kos atau kontrakkan.

Lalu kita berbicara dari segi kesehatan. Jujur, berita yang mengatakan Indonesia kurang siap dalam menangani COVID-19 memang banyak benarnya.

Jumlah rumah sakit yang bisa menampung pasien tak banyak, apalagi petugas medis yang harus ngos-ngosan beberapa bulan ini demi menyelamatkan seseorang. Yang padahal, mereka sangat beresiko juga tertular pasien.

Kalau dampak secara kesehatan mungkin cuma satu, ya terinfeksi itu sendiri. Sebagaimana kita tahu bahwa kemungkinan terburuknya bisa menyebabkan kematian.

Meskipun kebanyakan orang yang meninggal karena COVID-19 adalah mereka yang sudah tua atau mempunyai penyakit lain sebelum terinfeksi.

Tapi, tetap saja bahaya.

Kasian para petugas medis yang kerja beberapa bulan tanpa ada libur dan terancam ikut tertular.

Skip.

Eh, parahnya yang terjadi mulai dari atas sampai bawah isinya adalah orang-orang yang saling nyalahin. Emang bener sih, situasi kaya gini gada yang bener gada yang salah.

Mungkin ada orang yang pro medis, auto teriak lockdown-lockdown. Iyasih wajar kalau mereka punya stok sembako sendiri selama beberapa minggu sampai bulan. Tapi yang enggak gimana dong?

Satunya lagi orang yang pro ekonomi, auto teriak-teriak keluar aja gapapa aktivitas seperti biasanya gausah takut. Iyasih, soalnya ada kebutuhan yang harus dipenuhi, tapi kalau jumlah pasien melonjak yang bingung pihak medis juga dong.

Akibatnya malah salah-salahan. Yang di pihak medis bilang sudut pandang pihak ekonomi "bodoh" *maaf sedikit kasar, begitu juga sebaliknya yang ada di pihak ekonomi memojokkan yang ada di pihak medis.

Entahlah, jika negara lain sudah menggunakan lintas ilmu untuk menyelesaikan permasalahan ini, di negara kita masih banyak orang yang berfikir menggunakan satu disiplin ilmu. Intinya agak egois memperjuangkan sepenuhnya pihak yang dipijak.

Aneh, tapi begitulah.

 Jadi yang bener harus gimana dong? 

Nah, ketimbang saya nanti dituduh cuma bisa ngedumel, nyalahin mereka yang saling nyalahin, dan hampir gak ada bedanya jasi mau gak mau saya harus kasih solusi meskipun mungkin jauh dari kata terbaik.

Kalau menurut saya sendiri sih...

Pertama, Indonesia segera menemukan= penawarnya sendiri untuk mengatasi COVID-19.

Kedua, orang yang masih muda sehat dan presentase hidupnya tinggi meskipun terpapar boleh beraktivitas tetapi juga harus menggunakan protokol kesehatan. SEDANGKAN orang yang presentase hidupnya rendah saat terpapar seperti yang sudah tua atau punya penyakit lain harus benar-benar menutup pergerakannya sendiri.

Tentu saja, ini mungkin agak condong ke ekonomi dan sulit dilakukan. Bayangin, gimana harus ditentukan dulu presentase bisa bertahan hidup untuk setiap orang, belum lagi nanti dipisahkan dan diarahkan sesuai dengan prosedur.

Tapi apa boleh buat, kalau terus diam dan gak jelas kapan berakhirnya. Grafiknya sih naik sedikit, tapi terus-terusan naik.

Ketiga, usahakan untuk tetap #DiRumahAja, tapi jangan lupa bagi orang yang merasa mampu sebisa mungkin memberikan bantuan kepada orang-orang disekitar kita, terutama yang membutuhkan. Syukur-syukur kalau bisa ngajarin cari duit secara online.

Udah, cuma itu yang saya pikirkan.

Oh iya, tes yang dilakukan baru sekian jika dibanding dengan jumlah keseluruhan penduduk di Indonesia. Jadi wajar kalau yang terdata masih sedikit.

Kalaupun ini berhentinya masih lama, akan sangat mengerikan bagi kondisi ekonomi jika terus-terusan di rumah.

Begitulah, memang membingungkan, tapi menurut saya yang paling penting jangan menjelekkan pendapat orang lain. Biarlah yang berfikir secara medis mengutarakan pendapatnya, begitu juga yang berifikir secara ekonomi.

Kita harus bersatu, semoga ini semua cepat berlalu. Sementara aku dan kamu kembali lagi bertemu. Bercanda tawa lagi seperti dahulu. Sekian, sama-sama.

Posting Komentar untuk "COVID-19 di Indonesia: Ketakutan, Ekonomi, dan Kesehatan"